Skip to main content

Seperti Hewan, Seperti Mesin

Ilustrasi dihasilkan oleh AI Ada macam-macam pengandaian untuk manusia tertentu yang dianggap tak-lagi-seperti-manusia. Dalam sebuah pertarungan UFC (contoh ini dipilih karena saya sering menontonnya di Youtube), misalnya, seorang petarung yang begitu ganas dalam melancarkan pukulan dan bantingan bisa diibaratkan oleh komentator "seperti hewan". Mungkin karena petarung tersebut begitu "kehilangan akal", memanfaatkan hanya nalurinya untuk menerkam, memanfaatkan seluruh tubuhnya untuk menghabisi mangsa.  Ada juga perandaian lain yang non-manusia, yaitu mesin. Menyebut manusia sebagai mesin sama-sama memperlihatkan "kehilangan akal", tetapi lebih menunjuk pada suatu gerakan otomat, kadang repetitif, yang kelihatannya bisa dilakukan berulang-ulang tanpa mengenal rasa lelah. Mungkin bisa dibayangkan pada Cristiano Ronaldo muda yang larinya begitu kencang atau petinju yang bisa menghujamkan pukulan terus menerus seolah-olah dia diprogram demikian.  Tubuh adalah ...

Ideologi


Bermula dari pertemuan dengan Pak Awal Uzhara tahun 2013 hingga wafatnya beliau tahun 2016, cara pandang saya terhadap ideologi yang melekat pada seseorang menjadi begitu berbeda. Mungkin perlu diceritakan kembali, bahwa Pak Awal adalah mantan eksil yang pernah tinggal enam puluh tahun di Rusia karena alasan politik. Pergi ke Moskow tahun 1958 untuk sekolah film di Institut Sinematografi Gerasimov (dulu namanya VGIK), paspornya dicabut akibat pergolakan politik tahun 1965 di tanah air. Kita tahu bahwa orang-orang yang pergi ke negara-negara Eropa Timur atau negara-negara sosialis pada masa itu adalah "orang-orang utusan Soekarno" yang perlu disingkirkan oleh rezim orde baru, termasuk salah satunya adalah Pak Awal. Pak Awal berhasil pulang tahun 2011 ke Indonesia dan tinggal di Bandung hingga akhir hayatnya. 

Meski sering ketakutan bahwa ia masih "diincar" selama di Indonesia, Pak Awal, di usianya yang kepala delapan, tidak kehilangan keyakinannya atas ideologi yang ia anut. Puluhan tahun di Uni Soviet membuat dirinya lekat dengan ajaran kekirian, meski kadarnya mungkin tidak sekental dulu (saya tidak tahu dulunya Pak Awal bagaimana). Misalnya, setiap kami menonton film bersama, Pak Awal selalu menyelipkan kekesalannya pada film-film Hollywood. Bisa dimaklumi, sebagai lulusan salah satu sekolah film paling bergengsi di dunia, Pak Awal langsung diajar oleh para dosen yang hebat-hebat dari Uni Soviet, yang pada masa itu sangat berseberangan dengan Amerika dan segala produknya. Pak Awal mungkin tidak tahu, bahwa dunia hari ini sudah tidak dipecah berdasarkan ideologi sebagaimana Barat - Timur sewaktu Perang Dingin, tetapi cara pandang dikotomis tersebut masih menempel dan kelihatannya tidak mungkin hilang. 

Begitupun saat saya berjumpa orang lainnya, yang mungkin tidak perlu saya sebutkan namanya. Meski sudah sepuh dan telah merasakan represi begitu berat di era orde baru, ideologi yang mereka anut tidak pernah luntur. Mungkin di masa-masa tertentu, mereka pernah sangat menyembunyikannya (demi keselamatan diri), tetapi menyembunyikan tidak berarti menghilangkan. Malah bisa jadi akibat disembunyikan itulah, ideologi yang ditahan-tahan menjadi semakin menggumpal, dan menunggu momentum untuk meledak. Perasaan kuat terhadap ideologi tersebut membuat saya yakin bahwa lingkungan, sebagaimanapun memaksanya, tidak bisa begitu saja mengubah pendirian seseorang. 

Sebagai contoh, jika ajaran Marxisme dengan materialisme historisnya menganggap agama hanya sekadar produk material yang bertalian dengan sejarah (bukan turun dari langit), maka orang-orang yang saya temui juga rasanya masih punya pandangan demikian (meski tentu menjadi agak kompromis karena usia). Dulu pikiran naif saya mengatakan: orang semakin tua pasti semakin dekat pada agama. Alasannya tentu, mereka takut akan mati, sehingga lambat laun mulai bertaubat, atau bahkan hijrah. Ternyata tidak selalu demikian. Mereka yang sedari muda telah ditanamkan ajaran bahwa agama tidak lebih dari sekadar produk material masyarakat, mungkin akan tetap menganggapnya demikian, meski lingkungan di sekelilingnya beragama, meski ia dikepung adzan lima kali dalam sehari, meski ia dicekoki doktrin bahwa komunis itu bahaya laten karena salah satunya, tidak percaya Tuhan! 

Semakin tua, orang belum tentu kian beragama dan kian percaya Tuhan. Orang semakin tua, kemungkinannya ada dua: entah ia bermanuver dari kepercayaannya yang lama karena sudah tidak relevan dengan usianya, atau apa yang ia percayai sejak lama semakin mengeras, mengkristal dalam tubuhnya. Pada opsi yang kedua, orang sudah tidak bisa diapa-apakan lagi, mereka sudah benar dalam konteks pikirannya sendiri. Meski kita mampu membongkar kekeliruan jalan pikirnya, hal tersebut bisa saja ditolak karena keyakinan yang telah mengakar dalam memori dan tindakannya. Itulah ideologi.

Comments

Popular posts from this blog

Kelas Logika: Kerancuan Berpikir (Informal)

 Dalam keseharian kita, sering didapati sejumlah pernyataan yang seolah-olah benar, padahal rancu dan sesat. Kerancuan dan kesesatan tersebut disebabkan oleh macam-macam faktor, misalnya: penarikan kesimpulan yang terburu-buru, penggunaan kata yang bermakna ganda, penekanan kalimat yang tidak pada tempatnya, pengaruh orang banyak yang menyepakati sebuah pernyataan sebagai benar, dan lain sebagainya.    Dalam ranah ilmu logika, kerancuan dan kesesatan diistilahkan dengan fallacy (jamak: fallacies ). Fallacy ini amat banyak ragamnya, dan di tulisan ini akan disebutkan fallacy yang sifatnya informal. Formal fallacies adalah kerancuan yang dihasilkan dari kesalahan dalam aturan silogisme, penalaran, dan pengambilan keputusan. Sedangkan informal fallacies (atau disebut juga material fallacies ) adalah kerancuan yang dihasilkan dari kekeliruan memahami konsep-konsep yang lebih mendasar seperti terma, definisi, dan pembentukan premis itu sendiri.  1. Kerancuan dal...

Honest Review

Istilah " honest review " atau "ulasan jujur/ apa adanya" adalah demikian adanya: ulasan dari seseorang (hampir pasti netizen dalam konteks ini) tentang suatu produk entah itu kuliner, buku/ tulisan, film, dan lain-lain, yang disampaikan secara "jujur". Hal yang umumnya terjadi, "jujur" ini lebih condong pada "kalau jelek bilang jelek" atau semacam "kenyataan pahit". Sebagai contoh, jika saya menganggap sebuah rasa sebuah makanan di restoran A itu buruk, saya akan mengklaim diri saya telah melakukan " honest review " jika kemudian dalam membuat ulasan, benar-benar mengatakan bahwa makanan tersebut rasanya buruk. Mengatakan bahwa sebuah makanan itu enak dan memang benar-benar enak, memang juga semacam " honest review ", tapi biasanya bisa dicurigai sebagai bentuk dukungan, promosi, atau endorsement . Jadi, saat seorang pengulas berani mengatakan bahwa makanan ini "tidak enak", fenomena semacam itu ...

Puisi Penjudi

  Sejak SD kutahu berjudi itu dilarang Dari Qur'an sudah jelas judi dibilang haram Orang bijak bilang tiada manusia kaya karena judi Rhoma Irama menegaskan judi merusak pikiran Tapi tidakkah Tuhan jua yang menciptakan ketidakpastian? Tidakkah Tuhan jua yang memaksa kita mengundi? Tidakkah Adam turun ke dunia karena ia main judi? Buah khuldi: jauhi atau makan Ia putuskan yang nomor dua Lantas ia turun ke bumi, melahirkan kita-kita ini Keturunan seorang penjudi Lalu jikalau memang iya tak ada yang kaya karena judi Maka tanyakan pada pemilik motor Tiger itu Yang ia menangkan ketika jadi bandar empat tahun lalu Sekarang motornya sirna, rusak hancur dalam suatu petaka Ia kembali naik angkot seperti nasibnya sebelum pesta sepakbola Para tetua bilang, "Lihat, hasil judi, dari tanah akan kembali ke tanah" Tapi si pemuda mesem-mesem dalam hati Ada keyakinan yang ia pendam dalam-dalam Bahwa setidaknya dalam suatu percik hidupnya Ia pernah naik motor Tiger Pernah merasakan gelegak k...