Skip to main content

Tentang Perempuan Bernama NK

Pada tanggal 21 Agustus 2024, seorang perempuan, mantan mahasiswi, menjangkau saya via DM Instagram untuk mengucapkan simpati atas hal yang menimpa saya. Singkat cerita, kami berbincang di Whatsapp dan janjian untuk berjumpa tanggal 6 September 2024 di Jalan Braga. Tidak ada hal yang istimewa. Dia sudah punya pacar dan juga memiliki mungkin belasan teman kencan hasil bermain dating apps .  NK baru saja bercerai dengan membawa satu anak lelaki. Dia adalah mahasiswi yang saya ajar pada sekitar tahun 2016 di sebuah kampus swasta. Dulu saya tidak punya perhatian khusus pada NK karena ya saya anggap seperti mahasiswa yang lainnya saja. Namun belakangan memang dia tampak lebih bersinar karena perawatan diri yang sepertinya intensif. Selain itu, bubarnya pernikahan selama sebelas tahun membuatnya lebih bebas dan bahagia. Sejak pertemuan di Jalan Braga itu, saya tertarik pada NK. Tentu saja NK tidak tertarik pada saya, yang di bulan-bulan itu masih tampak berantakan dan tak stabil (fisik, ...

Jiwa yang Sangat Dalam


"...Janganlah hanya memetiki dedaunan,
Atau menyibukkan diri dengan rerantingan."

Novel Musashi karya Eiji Yoshikawa, yang sedari saya kecil menghiasi rak buku di rumah, tak pernah sekalipun saya sentuh. Sampai akhirnya, beberapa bulan silam, saya mendengar Heru Hikayat, seorang kawan yang kurator, menyinggung nama Musashi dalam suatu diskusi. Saya bilang dalam diri, "Hey, rasanya novel itu menghiasi ingatan masa kecil saya. Apa tidak sebaiknya saya baca agar setidaknya ibu bangga karena novel kesayangannya dibaca sang anak?" Singkat cerita, ibu mengatakan bahwa novel itu sudah hilang entah kemana. Saya akhirnya membeli di sebuah mal di Jakarta. Novel terkenal ini masih bertebaran dan mudah ditemukan.

Dua bulan lebih saya baru sanggup menyelesaikannya. Penyebabnya dua hal: Saya memang bukan pembaca novel tebal. Ini adalah tahap dimana saya merasa perlu belajar membaca novel yang ketebalannya seperti KBBI. Sehingga, saya belum terbiasa mengatur tempo dan intensitas membaca. Kedua, tentunya alasan kesibukan. Alasan yang kemudian saya malu dibuatnya karena betapa novel Musashi mengajarkan bahwa derajat kesenggangan lebih tinggi dari kesibukan.

Ceritanya sesungguhnya sederhana. Ini adalah kisah tentang Miyamoto Musashi yang bertekad menjalani Jalan Pedang. Tujuan hidupnya adalah menjadi manusia sejati lewat latihan, disiplin, dan tempaan. Musashi bertindak soliter, ia adalah seorang ronin yang tidak dipekerjakan oleh siapa-siapa. Ia kemudian menemukan bahwa menjadi samurai hebat tidak bisa hanya dengan mempelajari ilmu pedang. Menjadi samurai sejati adalah juga soal memiliki jiwa yang lengkap dan utuh penuh. Musashi mempelajari seni melukis, mengukir patung, bertani, hingga minum teh. Ia ada pada kedalaman jiwa yang paripurna ketika melawan musuh sejatinya, Sasaki Kojiro.

Novel ini mengajarkan saya begitu banyak. Saya melihat dunia dengan cara yang sama sekali lain dengan sebelumnya. Dulu saya menganggap ada dikotomi serius antara profesionalisme dan hobi. Harus ada satu yang kita jadikan serius ditekuni, lainnya adalah sebagai hiburan yang sifatnya sekunder. Hal semacam ini tentu tidak keliru dan berkembang secara umum di masyarakat. Namun Musashi mengajarkan tentang betapa tidak ada beda, bahwa mempelajari apapun, ujungnya harus satu: Mencapai keluhuran jiwa. Ada dialog menarik antara Otsu dengan Yagyu Sekishusai:

Tanya Otsu, "Bapak tentunya pernah belajar keras merangkai bunga." Kata Sekishusai, "Sama sekali tidak. Aku bukan bangsawan Kyoto, dan tak pernah aku belajar merangkai bunga atau upacara minum teh dengan pimpinan seorang guru." "Tapi kelihatannya Bapak pernah belajar." "Cara yang kugunakan untuk bunga sama dengan cara untuk pedang."

Saya berteriak, merasa bodoh, "Oh, selama ini saya berlagak profesional! Menekuni satu bidang agar dipandang ahli! Padahal tujuan hidup ini adalah menjadi manusia sejati!" Saya pun merenung dalam-dalam, melihat bahwa tidak ada beda sama sekali apa-apa yang saya sukai selama ini: musik, filsafat, sepakbola, film, dsb. Asalkan dijalani dengan tekun, disiplin, dan selalu merasa berkekurangan dalam mencapai kesempurnaan, maka disitulah jiwa mendapatkan satu pemurnian. Memisahkan dirinya dari keterbenaman fana dalam "Memetiki dedaunan atau menyibukkan diri dengan rerantingan."

Terlalu jauh bagi saya untuk menjalani disiplin seorang ronin macam Musashi. Tak sanggup saya berjalan kaki melintasi perbatasan Kota Bandung sekalipun, menunggu cinta seorang wanita tanpa melibatkan telepon genggam, mengetuk pintu rumah siapa saja jika butuh makanan atau tempat berteduh, ataupun menantang siapapun yang dianggap terkuat menurut anggapan masyarakat.

Yang bisa saya terapkan dari seorang Musashi adalah ini: Ada satu jalan lurus yang sama antara manusia dan alam semesta. Tidak mudah mengungkapkan hal semacam ini dengan kata-kata. Tapi jika jiwa ini terus menerus diasah dengan disiplin dan rasa haus akan kebijaksanaan, maka jalan lurus itu semakin lama akan terbentang. Gaya dua pedang tidak ada beda dengan satu pedang. Pedang kayu tak akan beda dengan pedang tajam yang panjang. Mengajar di kelas dengan mengandalkan endapan pengalaman tak akan beda dengan mengajarnya orang yang membaca seribu buku. Menjalani kehidupan tak akan beda dengan menyaksikan sepakbola di layar kaca. Mengurusi pernikahan tak akan beda dengan menggarami masakan.
 

Comments

Popular posts from this blog

Honest Review

Istilah " honest review " atau "ulasan jujur/ apa adanya" adalah demikian adanya: ulasan dari seseorang (hampir pasti netizen dalam konteks ini) tentang suatu produk entah itu kuliner, buku/ tulisan, film, dan lain-lain, yang disampaikan secara "jujur". Hal yang umumnya terjadi, "jujur" ini lebih condong pada "kalau jelek bilang jelek" atau semacam "kenyataan pahit". Sebagai contoh, jika saya menganggap sebuah rasa sebuah makanan di restoran A itu buruk, saya akan mengklaim diri saya telah melakukan " honest review " jika kemudian dalam membuat ulasan, benar-benar mengatakan bahwa makanan tersebut rasanya buruk. Mengatakan bahwa sebuah makanan itu enak dan memang benar-benar enak, memang juga semacam " honest review ", tapi biasanya bisa dicurigai sebagai bentuk dukungan, promosi, atau endorsement . Jadi, saat seorang pengulas berani mengatakan bahwa makanan ini "tidak enak", fenomena semacam itu ...

Kelas Logika: Kerancuan Berpikir (Informal)

 Dalam keseharian kita, sering didapati sejumlah pernyataan yang seolah-olah benar, padahal rancu dan sesat. Kerancuan dan kesesatan tersebut disebabkan oleh macam-macam faktor, misalnya: penarikan kesimpulan yang terburu-buru, penggunaan kata yang bermakna ganda, penekanan kalimat yang tidak pada tempatnya, pengaruh orang banyak yang menyepakati sebuah pernyataan sebagai benar, dan lain sebagainya.    Dalam ranah ilmu logika, kerancuan dan kesesatan diistilahkan dengan fallacy (jamak: fallacies ). Fallacy ini amat banyak ragamnya, dan di tulisan ini akan disebutkan fallacy yang sifatnya informal. Formal fallacies adalah kerancuan yang dihasilkan dari kesalahan dalam aturan silogisme, penalaran, dan pengambilan keputusan. Sedangkan informal fallacies (atau disebut juga material fallacies ) adalah kerancuan yang dihasilkan dari kekeliruan memahami konsep-konsep yang lebih mendasar seperti terma, definisi, dan pembentukan premis itu sendiri.  1. Kerancuan dal...

Puisi Penjudi

  Sejak SD kutahu berjudi itu dilarang Dari Qur'an sudah jelas judi dibilang haram Orang bijak bilang tiada manusia kaya karena judi Rhoma Irama menegaskan judi merusak pikiran Tapi tidakkah Tuhan jua yang menciptakan ketidakpastian? Tidakkah Tuhan jua yang memaksa kita mengundi? Tidakkah Adam turun ke dunia karena ia main judi? Buah khuldi: jauhi atau makan Ia putuskan yang nomor dua Lantas ia turun ke bumi, melahirkan kita-kita ini Keturunan seorang penjudi Lalu jikalau memang iya tak ada yang kaya karena judi Maka tanyakan pada pemilik motor Tiger itu Yang ia menangkan ketika jadi bandar empat tahun lalu Sekarang motornya sirna, rusak hancur dalam suatu petaka Ia kembali naik angkot seperti nasibnya sebelum pesta sepakbola Para tetua bilang, "Lihat, hasil judi, dari tanah akan kembali ke tanah" Tapi si pemuda mesem-mesem dalam hati Ada keyakinan yang ia pendam dalam-dalam Bahwa setidaknya dalam suatu percik hidupnya Ia pernah naik motor Tiger Pernah merasakan gelegak k...